Para Penentang Allah dan Rasul

Oleh: M. Rum Alim

 

Berangkat dari kenyataan bahwa dalam kehidupan manusia begitu banyak agama dan aliran kepercayaan. Semuanya menyatakan bahwa mereka beriman kepada Tuhan dan menyembah-Nya, serta mengharapkan masuk surga kelak setelah mati dan tidak mau masuk neraka. Masing-masing mengklaim bahwa orang-orang yang tidak seiman dengan mereka (diluar agama yang mereka anut) akan masuk neraka dan hanya merekalah sajalah yang masuk surga.

Di sisi lain, Tuhan yang disembah oleh setiap penganut agama berbeda-beda. Apakah ini berarti, Tuhan itu beragam dan berbeda antara satu dengan yang lain. Jika demikian, apakah setiap Tuhan itu mempunyai surga dan nerakanya sendiri-sendiri, sehingga surga dan neraka juga beragam sesuai dengan keberagaman agama. Ini berarti, orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang diyakini oleh suatu agama tertentu akan masuk ke nerakanya agama itu, dan ia juga masuk ke surganya Tuhan yang ia sembahnya. Jelasnya, apakah saya sebagai penganut Islam, yang menyakini Allah adalah Tuhan saya dan menyembah hanya kepada Allah dan tidak kepada yang lain, akan masuk neraka? Tidak apa-apa kalau saya masuk ke nerakanya agama Hindu, nerakanya agama Protestan, nerakanya Katolik dan nerakanya Budda, dan nerakanya agama lainnya, asalkan tidak masuk ke nerakanya Allah.

Terus terang, saya tidak takut sedikitpun pada neraka yang manapun dari neraka-nerakanya agama-agama lain. Saya hanya takut pada nerakanya Allah, sebab saya menyakini, sangat menyakini bahwa Allah jualah yang sesungguhnya menciptakan surga dan neraka.

Allah adalah Tuhannya alam semesta, Tuhannya seluruh mahaluk, Tuhannya para malaekat, Tuhannya para nabi dan rasul. Tatapi mengapa tidak semua manusia menyembah Allah, melainkan menyembah tuhan-tuhan yang lain, selain Dia.

Allah memang memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih. Akan tetapi kebebasan memilih bukan tanpa risiko, melainkan kebebasan memilih dengan risiko (konsekwensi). Memilih salah satu jalan dari dua jalan yang disediakan oleh Allah, yaitu: jalan menuju surga atau jalan menuju neraka. Memilih antara menyembah Allah atau menyembah syaitan. Menyembah Allah, itulah jalan menuju surga dan menyembah syaitan itulah jalan menuju neraka. Inilah pentunjuk yang dijanjikan Allah kepada Adam, ketika Adam dan istrinya diusir dari surga.

Dengan kasih sayang (rahman dan rahim)-Nya, Dia bekali ke dalam jiwa setiap anak-cucu Adam dengan sumpah (perjanjian) akan keberadaan diri-Nya. Perjanjian tersebut sebagaimana termuat di dalam Al-Quran surat A’raaf (7) ayat 172, yang artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Pada ayat berikutnya, Allah menjelaskan bahwa Allah mengambil perjanjian (kesaksian) tersebut agar di hari kiamat kelak, dalam pengadilan di padang mashar, tidak ada lagi alasan bagi siapapun untuk mengelak dari kesalahannya memilih jalan yang di tawakan Allah kepadanya.

 

Pembangkangan Iblis (syaitan)

Iblis adalah hamba Allah dari golongan jin yang sering juga disebut syaitan. Iblis sebelum Allah menciptakan Adam, ia tergolong hamba Allah yang taat, senantiasa bertasbeh kepada Allah, memuji dan mensucikan-Nya. Akan tetapi ketika Allah memerintahkan kepadanya bersama para malaekat untuk sujud kepada Adam. Ia menolak perintah itu, menolah sujud kapada Adam. Alasan penolakan Iblis adalah karena ia diciptakan dari api dan Adam diciptakan dari tanah, sehingga memandang dirinya lebih baik, lebih tinggi derajatnya, dan merasa lebih hebat daripada Adam. Hal ini dikisahkan oleh Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 34, yang artinya: Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaekat: “sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.

Pembangkangan Iblis tersebut mengakibatkan ia dikutuk oleh Allah, dihukum sesat selama-lamanya dan ditempatkan di neraka. Ia (iblis) tidak menyesal atas perbuatannya, tidak memohon ampun atas dosanya dan tidak bertaubat, malahan menantang. Ia minta kepada Allah agar hukumannya ditangguhkan (ditunda) sampai manusia dibangkitkan nanti di hari kiamat. Ia pun bersumpah dihadapan Allah bahwa dia akan mendatangi Adam dan setiap anak-cucu Adam dari berbagai sisi, baik dari depan, dari belakang, dari kiri, dan sisi kanan, untuk menggoda dan menyesatkan Adam dan anak-cucunya dari jalan yang lurus (siratal mustakim). Allah.memperkenankan permintaan iblis (syaitan) tersebut, tetapi godaan syaitan hanya berhasil pada orang-orang yang dihatinya ada penyakit dan tidak berlaku bagi orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dan memohon perlindungan-Nya.

Iblis (syaitan) berhasil melaksanakan misinya, yaitu mengeluarkan Adam dan istrinya dari surga. Ketika Allah menempatkan Adam dan istrinya di surga dan memerintahkan untuk makan makanan apa saja yang ada di dalam surga, kecuali satu pohon tertentu. Allah melarang keduanya makan buah dari pohon itu (pohon kuldi). Iblis berhasil menyelinap masuk ke dalam surga dan membujuk keduanya (Adam dan Hawa) dengan tipu-daya. Tipu-daya syaitan ini dikisahkan di dalam Al-Quran surat A’raaf (7:) ayat 20 dan 21, yang artinya: Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya; dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melaikan kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya: ”sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”.

Allah murka terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Adam dan istrinya atas larangan yang telah ditetapkan-Nya; sehingga keduanya diusir keluar dari surga. Allah berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu!. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah, ayat 38).

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripadamu yang menceriterakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al-Ma’idah: 35)

Petunjuk yang Allah janjikan sebagaimana dikutipkan di atas, datangnya bergelombang (gradual) dari generasi ke generasi silih berganti dan berulang-ulang melalui nabi-nabi dan rasul-rasul. Orang-orang yang diutus Allah untuk menyampaikan petunjuk di kisahkan dalam Al-Quran. Orang pertama yang di utus menyampaikan petunjuk adalah nabi Nuh, kemudian disusul oleh nabi-nabi dan rasul lainnya. Semua nabi dan rasul membawa petunjuk dari Tuhan yang sama dan intisari dari petunjuk itu juga sama, yakni: “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia”.

 

Penentang Para Nabi dan Rasul Allah

Nabi Adam hidup di dunia dalam kurun waktu kurang lebih 1.000 tahun atau 10 abad. Selam hidupnya di dunia, istrinya (Hawa) selalu melahirkan anak kembar secara berpasangan (laki dan perempuan). Setelah anak-anak Adam dan Hawa (generasi awal) cukup umur (dewasa), mereka dikawinkanlah secara bersilangan. Artinya anak laki-laki kembaran pertama dikawinkan dengan anak perempuan kembaran kedua atau anak perempuan kembaran-kembaran lainnya. Sedangkan anak perempuan kembara pertama dikawinkan dengan anak laki-laki kembaran kedua atau anak laki-laki kembaran-kembaran lainnya. Dengan cara demikianlah Allah mengembang biakkan anak-anak dan cucu-cucu Adam.

Setiap kali anak-anak dan cucu-cucu Adam yang akan lahir ke dunia, Allah mengambil sumpah (kesaksian) terlebih dahulu, sebagaimana yang telah dipaparkan di muka, yakni: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (Al-Quran surat A’raaf, ayat 172).

Bisa dibanyangkan, betapa pesatnya anak-cucu Adam berkembang biak selama masa hidup Adam di dunia (kurang lebih 10 abad). Selama masa hidup nabi Adam di dunia, anak-cucunya masih terjaga dari kafir terhadap Allah, sehingga pada masa itu Allah tidak menurunkan petunjuk-Nya. Entah berapa lama anak-cucu Adam berkembang-biak hingga sampai pada masa nabi Nuh diutus untuk menyampaikan petunjuk yang dijanjikan-Nya itu.

Nabi Nuh berdakwah menyampaikan petunjuk Allah selama kurang lebih 900 tahun lamanya, namun hanya sedikit yang beriman. Selama berdakwah ia mendapat perlawanan dan tekanan dari kaumnya, termasuk istri dan anaknya. Penguasa dan pembesar-pembesar kaumnya mengejeknya, menghinanya, dan menuduhnya sesat. Hal ini dikisahkan dalam Al-Quran, surat Al-A’raaf (7) ayat 59 s/d 62, yang terjemahannya sebagai berikut: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”. Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aka mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Pembangkangan, penentangan, penolakan, pengingkaran kaum Nuh terhadap ayat-ayat Allah yang disampaikan oleh nabi Nuh, mendapat balasan azab dari Allah. Mereka semua dimusnahkan dengan cara ditenggelamkan ke dalam air bah yang dikeluar dari perut bumi dan dicurahkan dari langit. Sedangkan nabi Nuh dan pengikutnya Allah diselamatkan dengan bahtera (kapal kayu yang dibangun atas petunjuk Allah) ke atas puncak gunung judi, setelah terapung-apung di atas air bah yang menutupi seluruh daratan selama berbulan-bulan.

Orang-orang yang selamat bersama nabi Nuh, berkembang biak dalam jumlah yang banyak dan terbentuklah sebuah koloni yang disebuti kaum A’ad. Kaum ini ditakdirkan memiliki perawakan tubuh yang lebih besar dan kekuatan tubuhnyanya melebih kekuatan tubuh dari kaum Nuh. Namun mereka tidak bersyukur. Allah mengutus nabi Hud untuk menyampaikan kebenaran dari Allah, namun mereka mengingkarinya, sehingga Allah musnahkan mereka dan menyelamatkan nabi Hud beserta orang-orang beriman kepada seruannya.

Firman Allah, yang artinya: “Dan (Kami telah utus) kepada kaum A’ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu, selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya. (7: 65). Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. (7:66). Hud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini utusan dari Tuhan semesta alam”. (7:67). Apakah kamu tidak percaya dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki diantaramu untuk memberikan peringatan kepadamu?. Dan ingatlah oleh kamu sekalian diwaktu Allah menjadikan pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (7:69).

Kekafiran kaum A’ad mengakibatkan Allah lenyapkan mereka seperti juga kaum Nuh. Jika kaum Nuh dilenyapkan dengan air bah, maka kaum Aad dileyapkan dengan suara yang keras. Setelah itu Allah menggantikan dengan kaum Tsamud dan mengutus Shaleh sebagai rasul. Ia (Shaleh) berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”. (7:73).

Kaum Tsamud melanggar perintah Allah dan rasul-Nya, mereka dustakan ayat-ayat Allah. Mereka bukan saja menggangu seekor unta betina tersebut, malah mereka membunuhnya. Akibat dari kezaliman itu Allah timpakan azab berupa gempa, sehingga orang-orang dari kaum Tsamud yang ingkar itu mati bergelimpangan dalam rumah-rumah mereka.

Sesudah kaun Tsamud leyap, Allah ciptakan umat-umat yang baru sebagai pengganti, yaitu kaum Mad’yan. Rasul yang diutus Allah untuk kaum ini adalah Nabi Syu’aib. Kaum ini diriwayatkan dalam Al-Quran sebagai berikut: Dan (Kami juga telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumkuku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakan takaran dan janganlah kamu kurangi takaran bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan jangan kamu membuat membuat kerusakan dimuka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (7:85). Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota-kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami) kendatipun kami tidak menyukainya?” (7:88). Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah rumah mereka, (yaitu) orang-orang yeng mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu, mereka yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (7: 91-92)

 

Setelah kaum Syu’aib lenyap Allah menggantikan dengan umat yang baru. Akan tetapi umat yang baru inipun tidak luput dari tipu-daya syaitan; mereka terjerumus menyembah berhala. Datanglah utusan Allah yang lain, yaitu: Nabi Ibrahim.

Ibrahim dilahirkan ditengah-tengah masyarakat yang menyembah patung-patung (berhala) yang dipahat dari batu. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pemahat patung yang handal. Patung yang dipahat ayahnya dan pemahat lainnya, dijual kepada pembesar atau pemuka masyaraka di masa itu, kemudian dijadikan Tuhan untuk disembah. Dalam situasi dan lingkungan masyarakat seperti itu, ibunya menyembunyikan Ibrahin yang masih kecil ke dalam hutan. Ibunya secara rutin berkunjung ke hutan itu secara sembunyi-sembunyi untuk memberi makan. Dengan kata lain, Ibrahim diisolasi oleh ibunya ke dalam hutan dari lingkungan masyarakat penyembah berhala. Ibrahim tumbuh besar di dalam hutan itu hingga mencapai usia dewasa. Hati dan jiwa Ibrahim bergejolak mencari Tuhannya.

Pada suatu kunjungan ibunya. Ibrahim bertanya: “siapakah yang menciptakan aku?”. Ibunya menjawab: “ibu dan bapakmu”. Ibrahim bertanya lagi: “siapakah yang menciptakan ibu dan bapak?”. Ibunya menjawab: “ya, kakek dan nenekmulah!”. Ibrahim bertanya lagi, siapakah yang mencitakan kakek dan nenek?”. Setelah ibunya menjawab ia bertanya lagi, …., lagi dan lagi, dengan pertanyaan yang senada. Akhirnya ibunya tidak bisa lagi menjawab.

Ibrahim terus bertanya, merenung mencari Tuhannya. Ia menatap ke langit, menatap bintang-bintang yang bertebaran dan merenung: “mungkinkah bintang yang paling besar dan yang paling terang itulah Tuhanku!”. Namun, segera ia sangkal ketika dia melihat bulan purnama. Berkatalah Ibrahim dalam hatinya, inilah Tuhanku. Hal ini karena dalam pandangannya, bulan purnama lebih besar dan lebih terang dari bintang yang ia lihat sebelumnya. Akan tetapi, menjelang fajar bulannya menghilang dan kemudian terbitlah matahari. Ketika bulannya menghilang, Ibrahim pun yakin bahwa bulan bukanlah Tuhannya, dan menyangka matahari adalah Tuhannya. Karena matahari bentuknya lebih besar dan sinarnya lebih terang. Ibrahim hampir yakin bahwa batahari adalah Tuhannya. Akan tetapi, matahari juga menghilang terbenam dibalik ufuk. Malampun merambah menyelimuti hutan dan sekitarnya. Ibrahim tenggelam dalam pekatnya gulita malam, dan akhirnya dia menyangkal kalau matahari itu adalah Tuhannya. Dalam perenungannya, Ibrahim sampai pada suatu kesimpulah dan yakin bahwa Tuhannyalah yang menciptakan bintang, bulan serta matahari, dan juga manusia. Tetapi bagaimana Tuhannya menghidupkan yang mati. Kemudian Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau hidupkan orang-orang mati, agar hatiku tetap mantap beriman kepadamu”. Allah mengabulkan doa Ibrahim, dan memerintahkannya memotong-motong empat ekor burung yang sangat ia kenal dan burung-burung tersebut pun mengenal suaranya, lalu meletakkan potongan-potongan burung itu pada empat bukit yang berbeda. Potongan bagian kepala di suatu bukit, bagian sayap di bukit yang lain, bagian badan di bukit yang lain lagi, dan bagian kaki pada bukit yang lain lagi. Setelah potongan potongan tubuh burung-burung diletakkan pada empat bukit yang terpisah, Ibrahim diperintahkan untuk memanggil burung-burung tersebut, maka datanglah ke empat burung yang tadinya sudah mati. Itulah bukti dari Tuhannya menghidupkan yang mati. (QS.Al-Baqarah, ayat 260).

Setelah memperoleh hidayah dan hikmah berupa keyakinan kepada Allah, Tuhannya yang menciptakan dirinya, menciptakan bumi dan langit, Yang Maha Perkasa dan Maha Pelindung, ia kembali ketengah-tengah masyarakatnya yang masih menyembah berhala. Ibrahim mengajak masyarakatnya pada masa itu untuk meninggalkan berhala dan menyembah Tuhannya. Kebanyakan mereka menolok, terutama para pemahat patung, para pemuka agama dan para pembesar dan para pembesar. Mereka mengejek Ibrahim dan menuduhnya sebagai pembohong dan gila, Ibrahimpun mengejek mereka dengan menghancurkan sejumlah patung-patung yang berukuran kecil dan menggantungkan alat penghancurnya (kapak) ke pundak sebuah patung yang berukuran besar. Penghancuran atas berhala-berhala mereka, menghebohkan seluruh negeri. Ibrahim ditangkap dan diadili. Dalam pengadilan itu, Ibrahim minta agar mereka menanyakan peristiwa penghancuran berhala-barhala tersebut kepada berhala yang dipundaknya ada kapak (alat penghancur), di lokasi kejadian tersebut.

Para pembesar negeri itu menjatuhkan hukuman mati kepada Ibrahim dengan cara membakarnya ditengah alun-alun agar bisa ditonton orang banyak sebagai peringatan. Ibrahum dimasukkan ke dalam api yang nyalanya menjulang tinggi yang panasnya hingga ke tepi alun-alun. Allah menyelamatkan Ibrahim dengan memerintahkan api agar tidak membakar Ibrahim. Di tengah-tengah kobaran api Ibrahim tidak merasakan panas, bahkan terasa sejuk.

  • Setelah gagal mengeksekusi mati, Ibrahim diusir dari negeri tersebut. Ibrahim keluar dari negeri itu bersama pengikutnya dalam rombongan yang tidak terlalu besar. Ikut bersamanya seorang wanita bernama Sarah, yang kemudian menjadi istrinya. Sepanjang perjalanan ia terus berda’wa, mengajak menyembah Allah, Tuhan pencipta bulan, matahari dan bintang-bintang. Tuhan yang telah menyelamatkannya darinya dari kobaran api orang-orang kafir. Rombongannya makin lama makin bertambah besar, sehingga ia memutuskan berhenti di suatu tempat (negeri). Usianya terus bertambah, tetapi dia belun juga mempunyai keterunan. Sarah, istrinya menganjurkan agar Ibrahim mau memperistri seorang dayangnya yang bernama Siti Hajar. Dari Siti Hajar inilah Ibrahim memperoleh seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Tentunya, Ibrahim sangat bersuka cita. Akan tetapi dalam sukanya cita itu, Ibrahim diuji oleh Allah dengan jalan memisahkan Ismail bersama ibunya dari dirinya. Ibrahim dengan patuh melaksanakan perintah itu. Ia membawa Ismail yang masih bayi bersama ibunya keluar dari tempat pemukiman rombongannya. Setelah lama berjalan berhentilah Ibrahim bersama istri dan anaknya Ismail di suatu lembah yang gersang dan tidak berpenghuni. Selang beberapa hari kemudian Ibrahim meninggalkan keluarganya (Ismail dan ibunya) tanpa perbekalan yang cukup untuk jangka lama. Bekal yang ditinggalkan Ibrahim hanyalah doa, sebagaiman termaktub dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 126 sebagai berikut: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dan buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang-orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. Al Baqarah: ayat 126).

 

 

Setelah berdoa Ibrahim pergi meninggal Siti Hajar dan Ismail, kembali ke tempat tiggal istri pertamanya, Sarah. Selanjutnya, Allah menganugrahkan Ibrahim dan Sarah seorang putera yang diberi nama Ishaq pada usia yang sudak sangat lanjut. Setelah Ishaq dewasa, Allah mengangkatnya menjadi nabi. Dari keturunan nabi Ishaq, lahitlah nabi Ya’qub. Ya’qub tinggal di sebuah dusun di padang pasir. Ia mempunyai 12 putera, salah seorang diantarnya diberi nama Yusuf. Sewaktu Yusuf masih kanak-kanak (remaja) diajak oleh 10 orang kakaknya pergi berburuh (bermain), lalu dibuang ke dalam sebuah sumur tua, karena dengki. Yusuf ditemukan oleh serombongan musafir, lalu di bawah ke Mesir dan di jual sebagai budak. Ia dibeli oleh seorang Al-Aziz (raja) dan dijadikan bujang. Istri Al-Aziz (Zulaikah), terpesona dengan paras Yusuf yang rupawan, sehingga menggodanya untuk berbuat mesum. Istri-istri para pembesar Mesir juga terpesona dengan paras Yusuf yang rupawan. Allah melindunginya, sehingga ia masuk penjara.

Setelah berhasil menta’wilkan mimpi sang raja Mesir, atas pertolongan Allah, ia diangkat menjadi bendaharawan negara dan tinggal di istana. Setelah menjadi bendaharawan negara Mesir, ia memboyong seluruh keluarga Ya’qub tinggal di Mesir. Anak-cucu Ya’qub berkembang biak hingga terbangun sebuah koloni yang kemudian dikenal dengan nama Bani Israil. Anak-cucu Israil memdapatkan cobaan dan ujian berat dari Allah. Ujian yang terberat yang dihadapi bani Israil adalah ketika raja Mesir membunuh anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan. Musa terhindar dari kezaliman itu. Allah menyelamatkannya, dan masuklah ia kelingkungan istana. Musa tumbuh dewasa bersama Fir’aun di dalam lingkungan istana. Akan tetapi, Fi’aun menempuh jalan kekafiran dengan mengangkat dan menobatkan dirinya sebagai Tuhan; sedangkan Musa, hati dan jiwanya terpelihara tetap beriman kepada Allah dan menyembah Allah, seperti yang disampaikan nabi Yusuf ketika ia masih di penjara, yakni: “Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tiada patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah[QS. 12:38]. .

Suatu ketika Musa memukul seorang laki-laki dan laki-laki itu mati hanya dengan sekali pukul. Kemudian Musa keluar dari Mesir untuk menyelamatkan diri. Setelah sekian lama ia meninggakan Mesir kemudian kembali menjumpai Fir’aun dan menyampaikan bahwa ia adalah utusan dari Tuhan semesta alam (lihat QS. 7:104), dengan menunjukkan mukjizatnya sebagai bukti kebenaran ucapannya. Lalu mengajak Fir’aun untuk menyembah Tuhannya dan memerdekakan Bani Israil. Akan tetapi, ajakan Musa dan permintaannya tersebut ditolak Fir’aun dan pembesar-pembesar kerajaan. Mereka menuduh Musa sebagai tukang sihir dan menantangnya adu sihir. Dalam adu sihir tersebut Musa menang dan tukang tukang sihir kerajaan Mesir menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun. Fir’aun marah besar ketika mengetahui tukang-tukang sihirnya menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun. Ia memotong kaki dan tangannya secara bersilang, lalu menyalib mereka di sepanjang jalan pintu keluar gerbang kerajaan. Fir’aun menyalib mereka bukan karena sihir mereka kalah, melainkan karena mereka beriman kepada Allah, Tuhannya Musa dan Harun. Tukang-tukang sihir Fir’aun, ketika hendak dibunuh, mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)” (QS. 7: 126).

Menjelang fajar, Musa membawa bani Israil keluar dari Mesir. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan sesuai petunjuk Allah kepada Musa. Setelah jauh berjalan barulah Fir’aun dan pasukannya mengejar. Pengejaran Fir’aun dan pasukannya semakin mendekat, ketika Musa dan rombongannya sampai di tepi laut (pantai). Lalu Allah memerintahkan Musa agar memukul (melemparkan) tongkatnya ke laut, maka lautpun terbelah. Musa membawa robongannya menyeberang melalui celah laut yang terbelah itu. Setelah rombongan Musa telah sampai diseberang, celah laut itu tertutup kembali. Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkah Allah. Menjelang ajalnya, Fir’aun menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa, tatapi terlambat sudah, dan ia mati dalam keadaan kafir. Allah menyelamatkan jasadnya untuk dijadikan pelajaran bagi manusia yang datang kemudian.

Musa dan rombongan berjalan tanpa tujuan yang pasti. Dalam perjalan itu rombongan Musa menjumpai sekelompok (sekumpulan) orang yang menyembah berhala, lalu mereka minta kepada Musa agar dibuatkan Tuhan yang bisa mereka sembah. Musa menolak (tidak memenuhi) permintaan itu, karena bagi Musa tidak pantas menserikatkan Allah dengan tuhan yang lain. Musa dan rombongan terus berjalan hingga tiba di sebuah lembah. Di lembah itu mereka berhenti dan bermukim di situ, menunggu Musa bermunajat kepada Allah di bukit Sinai.

Sebelum pergi ke bukit Sinai untuk bermunajat, Musa menunjuk Harun agar menggantikannya memimpin rombongan. Musa pergi selama kurang lebih empatpuluh malam lamanya untuk mengambil kitab Taurat yang dijanji Allah kepadanya. Setelah memperoleh kitab Taurat dengan pesan dari Allah agar Musa dan umatnya berpegang teguh pada Taurat; Musa kembali ke lembah dimana rombongannya bermukim. Betapa kaget, sedih, dan marahnya Musa ketika melihat pengingkaran dari sebagian besar bani Israil yang ada dalam rombongannya. Mereka telah menyembah berhala, yang mereka bentuk dari emas, berupa anak sapi yang bisa mengeluarkan suara jika tertiup angin. Musa murka, begitu murkanya sehingga ia lemparkan kitab Taurat yang ada dalam genggamannya ke tengah-tengah rombogan, lalu melompat ke arah Harun. Ia menjambak rambut rambut Harun dan menarik kearahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembiran melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim” (QS. Al-A’raaf, ayat 150).

Selang beberapa lama kemudian, amarah Musa berangsur-angsur mereda. Setelah amarahnya benar-benar telah reda, ia mengambil kembali kitab Taurat yang dicampakkannya tadi, kemudian ia berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masuklah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS. A’raaf, ayat 151).

Musa kemudian memilih tujuhpuluh orang di antara orang-orang yang telah melakukan kezaliman itu untuk bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan oleh goncang gempa bumi. Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal diantara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya” (QS. A’raaf : 155).

Setelah keadaan telah pulih, Musa melanjutkan perjalanan meninggalkan lembah, tempat mereka mukim sementar, ketika menunggu Musa kembali dari munajat kepada Allah, Tuhannya.

Sampailah mereka di sebuah perkampungan di tepi laut. Di tempat itu Allah menguji mereka dengan ikan-ikan yang terdampar di pantai dan mengambang di laut pada setiap hari sabtu, hanya pada hari sabtu sedangkan pada hari-hari lain tidak ada ikan yang mengambang. Sebagian orang dari bani Israil yang mengikuti rombongan Musa melanggar larangan Allah dan mereka berlaku fasik, pada hari sabtu. Orang-orang yang berlaku fasik itu dikutuk Allah, mereka diubah menjadi ‘kera’ yang hina. (lihat QS. A’raaf : 163 &166).

Selang beberapa lama kemudian Musa dan rombongan meninggalkan perkampungan nelayan menuju ke suatu tempat yang ditunjuk Allah kepada Musa, yakni Baitulmagdis (Palestina). Sesampainya di perbatasan kota (negeri) Musa perintahkan untuk masuk ke negeri tersebut. “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang yang merugi”. (QS. Al-Maidah ayat 21)

Seruan Musa ditentang oleh sebahagian besar kepala suku bani Israil yang mengikuti rombongan Musa hingga ke perbatasan Batulmagdis. Perlu diketahui bahwa rombongan bani Israil yang mengikuti Musa terbagi atas 12 golongan atau suku. Setiap suku dipimpin oleh seorang kepala suku. Dari 12 kepala suku tersebut, sebanyak 10 kepala suku menolak seruan nabi Musa, sebagaimana dikutipkan di atas. Padahal mereka menyaksikan kenabian Musa dengan mukjizat yang dianugerakan Allah kepadanya. Mereka merasakan langsung berbagai nikmat yang Allah limpahkan kepada mereka selama pembebasan dari tekanan Fir’aun. Mereka juga menyaksikan laknat Allah kepada yang fasik selama perjalan bersama Musa. Namun mereka masih saja ingkar. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya pasti kami akan memasukinya”. (QS. Al-Maidah: 22).

Dua orang kepala suku yang Allah telah beri nikmat dan hikmah atas kedunya berkata: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman. (QS. Al-Maidah [5]:23).

Sepuluh kepala suku yang menentang seruan Musa itu, berkata: “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan perangilah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (QS.Al-Maidah: 24)

Mengetahui bahwa hanya sedikit dari rombongannya yang bersedia memasuki Baitulmagdis, Musa sangat sedih dan kecewa. Ia lantas berkata: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkan antara kami dengan orang-orang fasik itu”. (QS. Al-Maidah: 25)

Bani Israil yang mementang nabi Musa memasuki Kota Suci (Baitulmagdai) di Palestina, Allah haramkan negeri itu bagi mereka dan menghukum mereka. Mereka kebingungan dan beputar-putar tak tentu arah dan tujuan. Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”. (QS. Al-Maidah: 26).

 

Sepeninggal nabi Musa, semakin banyak bani Israil yang meninggalkan pentujuk Allah yang diberikan kepada mereka berupa kitab suci Taurat. Mereka mendirikan agama baru, yang tidak sepenuhnya berpegang teguh pada kitab suci Taurat. Mereka, para memuka agama baru tersebut, mengubah sebagian dari kandungan isi Taurat berdasarkan hawa nafsu dan sebagian lagi mereka sembunyikan. Agama baru sepeninggal nabi Musa dinamakan agama Yahudi. Para penganut agama Yahudi menyebutkan kitab suci mereka adalah Taurat, akan tetapi Taurat yang mereka sebarluarkan, bukanlah Taurat yang Allah berikan kepada nabi Musa. Taurat yang disebarluaskan oleh para pemuka agama Yahudi (rahib-rahib) adalah Taurat yang sudah berubah dari aslinya.

Allah amat sangat mengatahui kezaliman hamba-hamba-Nya. Namun Allah tak pernah lelah dan bosan untuk terus mengirimkan nabi-nabi dan rasul-Nya. Banyak diantara nabi-nabi yang diutus setelah Musa, diperlakukan secara tidak semestinya, mereka dikejar-kejar dan diusir, bahkan ada yang dibunuh. Isa diciptakan Allah dalam kandungan Maryam (anaknya nabi Ali Imran) dengan kalimah “Khun” (jadilah) “Fayakhun” (maka jadilah dia). Penciptaan semacam itu sangat mudah bagi Allah. Sama mudahnya dengan ketika Dia menciptakan Adam dari tanah dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Sama mudahnya dengan menciptakan anak-cucu Adam dari air yang meluncur dari tulang sulbi Adam dan Hawa. Nabi Isa diangkat sebagai rasul ketika dia masih dalam buaian ibunya. Bayi mungil yang berada dalam gendongan (buaian) ibunya berkata kepada kaum kerabat ibunya: “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirankan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (QS. 19: 30-33)

Dalam melaksanakan tugas kerasulannya nabi Isa dibekali dengan serangkaian mukjizat. Ia dapat menghidupkan orang mati dengan izin Allah, menyembuhkan penyakit sompak, menyembuhkan orang buta sejak lahir dengan izin Allah. Sepanjang dakwah nabi Isa, ia mangajak jama’ahnya agar menyembah Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Ajakan Isa kapada jama’ahnya untuk menyembah Allah, hanya kepada Allah dan bukan kepada yang lain. Ajak inilah yang menyebabkan Nabi Isa dimusuhi oleh para pemuka agama Yahudi dan para penguasa pada masa itu. Nabi Isa diancam akan dibunuh seperti Nabi-nabi lainnya sebelum dia. Ia diburu oleh tentara-tentara penguasa untuk membunuhnya. Ketika Nabi Isa dan pengikutnya ditemukan dan dikepung oleh para tentara yang memburunya, Allah menyelamatkan Nabi Isa dengan mengangkatnya ke langit dan menyerupakan seorang muridnya dengan dirinya.

Tentara yang mengepung menangkap salah seorang murid yang telah diserupakan dengan Nabi Isa, mengikatnya di kayu salib dan menggiringnya ke suatu tempat (sebuah bulit) kemudian menegakan kayu salib itu di sana. Orang yang tergantung di kayu salib itu mengerang kesakitan. Setelah penyaliban tersebut, para pembesar dan pemuka masyarakat membuat ceritera bahwa Nabi Isa telah menjaminkan (menggadaikan) dirinya untuk menebus dosa-dosa manusia. Penyaliban Yesus tersebut merupakan bukti penebusan dosa manusia. Ceritera tersebut merupakan kebohongan yang luar biasa besarnya. Agar orang-orang pada masa itu mau percaya, kebohongan tersebut dikemaslah sedemikian rupa, sehingga kebanyakan orang percaya dan bersedia menyembah salib sebagai Tuhan mereka. Kemasan yang paling elegan adalah hasil dari memanipulasi atas fenomena kelahiran Isa menjadi trinitas, yakni Tuhan Anak, Tuhan Bapak, dan Ruh Kudus. Tiga adalah satu dan satu adalah tiga. Suatu kebohongan yang luar bisa pada zaman itu. Kemasan dari kebohongan ini terus menerus diperbaharui dengan argumen-argumen yang rumit dan disusun berlapis-lapis, sehingga mampu menyedot banyak pengikut.

Sesungguhnya Nabi Isa (Yesus) tidak pernah menyatakan bahwa dirinya adalah anak Tuhan, dan mengajak manusia agar menyembah salibnya sebagai tuhan. Sebaliknya Ia menyerukan bahwa : “Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus”. (QS. 19: 36).

 

Nabi Muhammad seperti juga nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya sebelum dia, menyampaikan petunjuk Allah agar manusia dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang, yaitu menyembah Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan yang ma’ruf dan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Akan tetapi dengan misi itu pulalah ia dimusuhi seperti juga nabi-nabi dan rasul-rasul lain sebelumnya. Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya dimusuhi dan diperangi oleh pemuka-pemuka dari kaumnya sendiri, yakni kaum Quraisy. Betapapun kaum kafir Quraisy menentang dan memerangi agama para nabi dan rasul, tetapi agama ini tidak mati melainkan terus hidup dan berkembang hingga saat ini.

 

Islam adalah Agama Para Nabi dan Rasul Allah

Allah telah memenuhi janji-Nya. Dia telah mengirimkan petunjuk-Nya melalui para Nabi dan Rasul yang dipilih-Nya diantara anak-cucu Adam yang hidup pada masa (zaman) tertentu. Nabi Nuh diutus pada manusia yang hidup sezaman dengannya. Demikian juga dengan Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Syu’aib, Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Yunus, Yusuf, Musa, Isa dan Muhammad, serta nabi-nabi lainnya tidak disebutkan dalam tulisan ini. Semua mereka, para Nabi dan Rasul, tunduk dan patuh pada Allah, Tuhan semesta alam. Mereka mangajak manusia yang hidup yang se zaman dengan mereka untuk menyembah Allah, Tuhan semesta alam, dan tunduk patuh kepada-Nya. Para Nabi dan Rasul ini, tergolong orang-orang saleh. Mereka semua penganut agama yang di ridhoi Allah, yakni agama Islam. Setiap pemeluk agama Islam senantiasa berpegang teguh pada Kitab Suci Al-Quran termasuk ayat-ayat berikut ini, yang artinya:“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk dan patuhlah!”; Ibrahim menjawab: “aku tunduk dan patuh pada Tuhan semesta alam”. (QS. 2: 131), Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang-orang yang membodohi diri sendiri, dan sungguhnya Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. 2: 132). Katakanlah (hai orang-orang mukamin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan apa yang diturunkan kepada Musa dan Isa serta apa-apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (QS. 2: 136).

 

Benarkah Penganut Agama Islam Masuk Neraka?

Allah adalah sang pencipta. Ia menciptakan alam semesta dan segala isinya, Dia pula yang menciptakan surga dan neraka. Dia berkuasa atas segalanya. Dia Maha Perkasa dalam mengatur segalanya. Allah-lah yang menurunkan Kitab Suci, Zabur, Taurat, Injil, dan Al=Quran. Di dalam Kitab Suci Al-Quran surat Al-Baqarah, ayat 1 s/d 10, yang terjemahannya sebagai berikut: “Alif laam miim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqkwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezekinya yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka beriman kepada Kitab (A Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) alherat. Mereka itulah yang tetap mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah yang beruntung. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kemu beri peringatan, merka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan merka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”.

Dari kutipan ayat-ayat di atas jelaslah siapa yang akan menderita kerugian dikemudian hari, setelah kematian. Di padang mashar nanti, setiap jiwa akan diadili, siapa yang benar-benar bertakwa dan siapa yang kafir. Yang bertakwa telah dijanjikan akan masuk surga, dan yang kafir telah pula diancam akan masuk neraka.

 

Jatiasih, 21 Juli 2016

Leave a Reply

*